Konflik yang saat ini terjadi di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia bukan merupakan konflik baru dan menjadi bagian dari sisa-sisa perang dingin yang pernah terjadi pada tahun 2014. Konflik ini masih bertahan hingga kini meskipun beberapa pihak menyatakan perang dingin sudah lama selesai sejak runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Namun, Presiden Vladimir Putin mengumumkan perang kembali secara resmi sejak 24 Februari lalu. Menurut presiden Bank Dunia secara global, perang di Ukraina adalah “bencana” bagi dunia yang akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan ekonomi global. Perang Rusia dan Ukraina nyatanya tidak hanya berdampak terhadap kedua perekonomian negara, tetapi berdampak pada perekonomian negara-negara lain. Salah satunya adalah Indonesia. Berkaca dengan dampak yang ada, seperti meningkatnya harga sejumlah komoditas dan gangguan dari segi suplai, keuangan negara secara otomatis terbebani dengan menanggung bengkaknya subsidi sejumlah komoditas, terutama minyak.
Seberapa besar pengaruh perang Rusia – Ukraina terhadap daya beli masyarakat di Indonesia?
Konflik di Ukraina akibat invasi Rusia telah menyebabkan kenaikan harga pangan hingga energi di Indonesia, kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Mayoritas kenaikan harga pangan di dalam negeri, kata Bhima, merupakan implikasi dari terhambatnya perdagangan antara Indonesia dengan Ukraina dan Rusia. Ukraina merupakan pemasok gandum terbesar bagi Indonesia. Sebaliknya bagi Ukraina, Indonesia adalah negara tujuan ekspor gandum terbesar kedua di dunia setelah Mesir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Ukraina memasok 2,96 juta ton gandum atau setara 27% dari total 10,29 juta ton yang diimpor Indonesia pada 2020. Bhima mengatakan kenaikan harga gandum cepat atau lambat akan berdampak pada konsumen di Indonesia, mengingat gandum merupakan bahan baku dari produk pangan seperti mi instan dan terigu. Indonesia sendiri merupakan negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, dengan total 12,6 miliar porsi pada 2020. Sementara itu, harga gandum akan tetap mengacu pada harga yang ditetapkan secara global, sehingga kenaikannya tidak bisa dihindari.
Dampak Perang Ukraina dengan Rusia Terhadap Perekonomian Indonesia
Shofwan Al-Banna Choiruzzad selaku pakar ekonomi politik internasional dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa walaupun perdagangan langsung antara Indonesia dengan Ukraina atau Rusia relatif terbatas, bukan berarti dampak dari perang tidak akan terasa. Salah satu dampak yang mungkin harus dihadapi Indonesia adalah potensi perlambatan ekonomi. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan bahwa pertumbuhan global melambat melambat dari 5,9% pada 2021 menjadi 4,4% pada 2022. Ekonom Universitas Gajah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan, perang tersebut memberi dampak yang cukup serius kepada Indonesia. Eddy memaparkan bahwa dampak perang akan terasa pada aliran uang yang ada di Indonesia. Sehingga, jika perang yang terjadi berlarut-larut dapat menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami pelemahan. Menurut Eddy, jika perang berlarut-larut, mata uang rupiah akan terdepresiasi terhadapat dollar AS sehingga nilai tuar rupiah melemah. Jadi nilai tukar rupiah yang melemah sekarang bukan karena kinerja rupiah yang buruk, melainkan karena dampak perang yang terjadi ekonomi Indonesia yang menghadapi guncangan layaknya roller coaster sehingga membutuhkan instrumen yang mampu menstabilkan sosial, ekonomi, politik serta menjaga masyarakat dari ancaman kesehatan. Instrumen tersebut adalah APBN keuangan negara. APBN bekerja keras dalam mengelola dinamika pemulihan ekonomi, Covid dan dinamika global. Kendati demikian, Sri Mulyani selaku Mentri Keuangan Indonesia mengatakan APBN harus tetap dijaga kesehatannya. Untuk itu, pemerintah perlu mencari alternatif lain agar APBN tidak terus menerus digunakan dan dieksploitasi, yang dapat menyebabkan APBN menjadi sumber penyakit di dalam negara.