Menjelang Mahasabha XII, semangat para kader KMHDI seluruh Indonesia terlihat semarak. Banyak yang berbondong-bondong menggunggah foto untuk menunjukan kesiapannya dalam menyukseskan Mahasabha XII yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan. Setelah mengalami penundaan karena pandemi Covid-19 serta kebijakan pemerintah yang terus menerus berganti, Mahasabha XII pada akhirnya dilaksanakan pada tanggal 18 sampai 23 Maret 2021 mendatang. Tak hanya itu, semarak menyambut acara nasional ini juga sangat terasa ketika jingle Mahasabha XII yang berjudul “Muda Memimpin, Indonesia Maju” resmi rilis di platform musik digital.
Deklarasi podium pun telah dilaksanakan guna memperkenalkan calon-calon penerus pemimpin KMHDI pada periode berikutnya. Terdapat 7 (tujuh) calon yang siap mengabdikan diri, mereka adalah Gede Budi Muliantika asal Sulawesi Tenggara, I Putu Yoga Saputra asal Sulawesi Selatan, Lira Hartami asal Kalimantan Tengah, I Gede Nara Asnanda asal DKI, Putu Asrinidevy asal Bali, I Wayan Darmawan asal Sumatera Selatan, dan Agung Nugroho asal Lampung. Event virtual ini juga menjadi wadah dan media dalam menyampaikan visi-misi dan program unggulan tiap-tiap calon serta tanya jawab antar kader KMHDI seluruh Indonesia dengan calon-calon pemimpinnya di tingkat pusat.
PC KMHDI Yogyakarta sendiri turut serta menggaungkan semarak kongres nasional yang diadakan tiap dua tahun sekali ini dengan mengkaji beberapa poin sesuai dengan arahan pimpinan pusat untuk dijadikan bahan evaluasi dan prospek kedepannya. Poin-poin tesebut adalah hirarki kepengurusan KMHDI. Yang pada bagian ini, PC KMHDI Yogyakarta fokus pada pengusulan penerapan sistem desentralisasi.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia terbentang dari sabang sampai merauke dan memiliki kondisi geografis dan sosial yang beragam. Berlandaskan kondisi ini pula penerapan sistem desentralisasi dianggap tepat bagi PC KMHDI Yogyakarta. Melihat latar belakang daerah, sangat sulit bagi PC KMHDI Yogyakarta untuk mengikuti garis hubungan yang bersifat instruktif antara Pimpinan Pusat dengan Pimpinan Cabang. Adakalanya instruksi dari Pimpinan Pusat tidak dapat dijalankan oleh PD/PC karena terkendala beberapa faktor diatas yang berujung pada teguran atau surat-surat peringatan baik secara formal ataupun informal. Pemandangan ini pun sangat tidak jarang terlihat. Disamping poin tersebut, PC KMHDI Yogyakarta juga turut menyerukan analisis tentang kelebihan dan kekurangan menggunakan sistem Ketua Umum atau sistem Presidium.
Mahasabha XII kali ini terbilang sangat istimewa karena berlangsung pada situasi pandemi yang tak menentu. Besar harapannya Mahasabha XII berlangsung dengan aman dan terkendali tanpa menimbulkan klaster baru. Maka dari itu, peserta yang hadir sangat dibatasi dari setiap PD/PC dan pastinya selalu menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. Kemudian, siapapun nanti yang terpilih sebagai penerus semoga mampu menahkodai organisasi ini dengan kebijakan-kebijakannya yang tepat baik bagi Pimpinan Pusat, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, Komisariat maupun masyarakat umum, sehingga dapat tercipta Niskama Karma Yoga.
Satyam Eva Jayate! [olla]