Kalau kata Nosstress sih “Tunda, tunda, tunda, tunda sampai kau menua”. Lirik lagu ini sangat populer dikalangan anak muda masa kini. Biasanya sebuah lagu menjadi populer karena makna lagu yang sangat nyata menggambarkan kondisi si pendengar. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya semua orang pernah menunda pekerjaannya, terlepas dari alasan mengapa kita melakukan itu. Sekali dua kali sih dirasa tidak apa-apa. Namun bagaimana jika menunda suatu pekerjaan dilakukan berulang kali? Tindakan cenderung menunda-nunda pekerjaan ini disebut dengan prokrastinasi. Pelaku yang sering bereksperimen dengan prokrastinasi biasanya dari golongan pelajar hingga orang dewasa. Kalimat klasik yang sering digunakan berbunyi “kerjainnya nanti aja”, nanti-nantinya sampai tak sadar kalau deadline pengumpulan tugas ternyata sudah besok.
Sebenarnya apa sih yang buat kita sering kali menunda pekerjaan? Rasanya memang ada sensasinya sendiri ketika mengabaikan tugas. Alih-alih mengerjakannya dahulu, malah rebahan, chatting, nongkrong, mabar, tiktokan, stalking mantan, atau nonton drakor. Kalau begini jadinya, pepatahnya jadi terbalik dong. “Berenang-renang kehulu, berakit-rakit ketepian.” Terlalu sering menunda pekerjaan jadinya malah menumpuk tugas saja. Pembelaannya sih katanya jenuh dan stress. Apalagi dalam kondisi pandemi saat ini, mau tidak mau tugas adalah sarana yang terasa pas untuk mengukur hasil belajar siswa. Hasil survey membuktikan, bahwa banyak yang menjadikan suasana hati (mood) sebagai alasan. Belum lagi jaringan internet yang seperti siput, alias lemot juga menyebabkan siswa susah mengakses materi pembelajaran yang belum mereka mengerti. Memang benar sistem pembelajaran dan pemberian tugas-tugas dalam perkuliahan ataupun sekolah di negara kita ini, cenderung tidak selaras. Namun, hal tersebut bukan serta merta dapat dijadikan sebuah pledoi dan pembenaran dalam melaksanakan praktik prokrastinasi. Coba bayangkan, betapa indahnya hidup ini jika kita bisa disiplin waktu sehingga tidak ada lagi yang namanya tugas menumpuk. Ya coba bayangkan saja dulu.

Selaras dengan hukum sebab akibat, prokrastinasi pasti memiliki dampak yang dapat kita rasakan. Hidup dengan menunda-nunda pekerjaan justru bikin kita tidak tenang dan bahagia. Responden dari survey juga menyatakan, ketika mereka melakukan praktik prokrastinasi hasil pengerjaan tugas jadi tidak maksimal, banyak tugas baru yang semakin menumpuk, terlambat mengirim tugas, yang berujung pada rasa bersalah terhadap diri sendiri, bahkan menyebabkan rasa takut hingga cemas. Tak sedikit juga siswa yang jam tidurnya jadi berantakan karena harus begadang untuk mengejar deadline in the last minute. Akibatnya tidak fokus pada keesokan harinya. Sangat bahaya sekali jika perilaku ini terus berulang-ulang. Tidak hanya berdampak pada psikologis, tapi juga kesehatan fisik.
Ada pepatah yang mengatakan, “Orang dewasa yang memiliki waktu luang sebenarnya sedang melakukan prokrastinasi.” Dalam satu waktu kita pasti menemui beberapa keadaan yang memaksa kita untuk menunda pekerjaan. Bisa karena adanya situasi yang lebih penting dan genting. Contohnya, ketika kita harus menunda mengerjakan tugas kuliah karena dalam kondisi sakit, kegiatan kepanitiaan atau ada hal lain yang menjadi prioritas. Maka, penundaan ini masih dapat ditoleransi dan tidak termasuk dalam prokrastinasi. Selama kita mampu disiplin dan bijak dalam mengatur jadwal sendiri, niscaya dampak buruk yang diakibatkan dari prilaku prokrastinasi.
Maka dari itu bunda, ayo kita sama-sama memupuk disiplin diri mulai dari hal paling kecil. Menghargai waktu adalah langkah utama dalam mengurangi praktik prokrastinasi. Menyusun jadwal untuk diri sendiri dan goals yang ingin dicapai. Ya, walau pada praktiknya di pertengahan banyak yang akhirnya bubar jalan. Namun apa salahnya untuk dicoba terus kan? Yang penting usaha. Semoga kita semua bisa menghadapi persoalan diri tentang prokrastinasi ini dengan baik dan bijak demi masa depan cerah ya! Dan percayalah, dalam mengerjakan artikel ini pun penulis juga bereksperimen dengan prokrastinasi kok. -Olla, Diah