Kata “Pasraman” berasal dari kata “Asmara” (sering ditulis dan dibaca Ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar atau pendidikan. Kata Asrama mendapat awalan “pa’ dan akhiran”an” didalam bahasa Jawa kuno dan Bali berarti tempat berlangsungnya pendidikan, yang maknanya sama dengan kata Ashram di atas. Pendidikan pasraman merupakan salah satu pendidikan nonformal yang di dalamnya terdapat pembelajaran agama Hindu. Sesungguhnya pendidikan agama Hindu telah diajarkan pada lembaga pendidikan formal, namun pada kenyataannya kurikulum pendidikan agama Hindu lebih berorientasi pada ranah kognitif, sementara ranah psikomotor dan afektif sangat kurang. Oleh karena itu pembelajaran sistem pasraman dilaksanakan dengan proses keberadaan pasraman sebagai penguatan budaya lokal dikaitkan dengan pendidikan pasraman yang menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin.
Berdasarkan Peranturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan pada pasal 41 menyatakan bahwa, apabila pendidikan keagamaan termasuk keagamaan Hindu pada jalur formal dipandang belum lengkap, maka pendidikan keagamaan pada jalur nonformal dapat dilaksanakan untuk melengkapi pendidikan agama di sekolah formal dalam rangka meningkatkan sraddha dan bhakti umat Hindu. Dalam Antarabali.com, menunjukkan bahwa pola pengelolaan pendidikan Hindu di Pasraman terdiri dari beberapa komponen meliputi : perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi untuk meningkatkan manajemen pendidikan Hindu berbasis penguatan budaya lokal.
Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki penduduk yang beragama Hindu sebanyak 3,42 ribu jiwa (0,09%) untuk menekankan pentingnya toleransi beragam Hindu, Kakanwil Kemenag DIY Dr. H. Masmin Afif, M. Ag senantiasa mengedepankan moderasi beragama dalam Pasraman. Dari dukungan tersebut, berdasarkan data dari Bimas Hindu DIY terdapat sebanyak 13 pasraman dimana sebanyak 11 pasraman merupakan pasraman formal dan 2 pasraman merupakan pasraman non formal. 13 pasraman tersebut yaitu Pasraman Widya Dharma, Pasraman Eka Dharma, Pasraman Widya Murti yang berlokasi di Bantul, Pasraman Widya Santi, Pasraman Widya Bhakti, Pasraman Satya Dharma, Pasraman Widya Wiyata, Pasraman Widya Loka, Pasraman Pratama Widya Pasraman Kumara Siddhi yang berlokasi di Gunung Kidul, Pasraman Sri Gading, Pasraman Saraswati yang berlokasi di Sleman, Pasraman Padma Bhuana Saraswati yang berlokasi Baciro, Pasraman TK Sari Mekar yang berlokasi di Banguntapan. Seluruh psraman ini berdiri di bawah naungan Yayasan Dharma Susila dan Yayasan Dharma Giri Kencana.
Salah satu pasraman di Yogyakarta yaitu Pasraman Padma Bhuana Saraswati Yogyakarta yang merupakan Pasraman non formal yang aktif pada kegiatan seni dan budaya. Dimana pasraman non formal adalah jalur pendidikan di luar pasraman formal yang dilaksanakan secara terstruktur. Tujuan adanya Pasraman ini adalah untuk menanamkan kepada peserta didik untuk memiliki Sradha dan Bhakti kepada Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) dan mengembangkan kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta terhadap pemahaman Weda. Sedangkan pasraman formal adalah jalur pendidikan pasraman yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang berdasarkan dari ajaran Weda (www.bali.kemenang)