Sabtu, 22 November 2025, PC KMHDI Yogyakarta melalui Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) telah melaksanakan kegiatan Bincang Sesama berupa pemutaran dan diskusi film Purusa: Wedding Sacred. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya organisasi dalam menghadirkan ruang dialog kritis bagi kader dan pengurus, sekaligus melatih kemampuan membaca persoalan sosial dan budaya melalui medium film.
Acara diselenggarakan di Wantilan Pura Vaikuntha Vyomantara. Kegiatan awalnya direncanakan mulai pukul 18.00 WIB, namun karena menunggu kedatangan peserta, acara resmi dimulai pada pukul 19.00 WIB. Sebanyak 13 peserta hadir dalam kegiatan ini. Penanggung jawab acara adalah Nyoman Pande Ananta Wijaya, dengan Ni Luh Dian Arimbi bertugas sebagai moderator.

Kegiatan dibuka dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembacaan catatan program, kemudian pemutaran film berdurasi 15 menit. Usai penayangan, diskusi berlangsung cukup intens hingga pukul 20.22 WIB, dengan partisipasi aktif dari peserta yang memberikan pandangan kritis terkait isu-isu budaya Bali yang hadir dalam film.
Penanggung jawab kegiatan, Nyoman Pande Ananta Wijaya, menyampaikan apresiasinya atas jalannya acara dan antusiasme peserta sepanjang sesi pemutaran dan diskusi.
“Saya sangat senang melihat bagaimana peserta berdialog dengan intens dan terbuka. Diskusi yang hidup ini menunjukkan bahwa tujuan kami untuk melatih pemikiran kritis benar-benar tercapai. Ke depannya, saya berharap program Bincang Sesama dapat terus dikembangkan dengan topik-topik yang lebih beragam sehingga mampu memantik kepekaan dan nalar kritis kader secara lebih mendalam,” ujar Nyoman Pande Ananta Wijaya.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung hangat dan produktif. Para peserta tidak hanya mengungkapkan pandangan pribadi, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas sosial di Bali, sehingga diskusi berjalan hidup dan reflektif. Hal ini selaras dengan tujuan utama program Bincang Sesama, yaitu menyediakan ruang bagi kader dan pengurus PC KMHDI Yogyakarta untuk melatih kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat, serta memahami isu-isu adat dan sosial melalui kacamata yang lebih analitis.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan para peserta semakin terasah dalam membaca konteks budaya dan mampu mengembangkan pemikiran progresif yang tetap berlandaskan nilai-nilai Hindu.